Bung Pram, Aku Mau Mengadu

Bung Pram. Aku tak pernah melihat wajah mu langsung, apalagi menyentuh tangan mu hanya sekadar untuk bersalaman. Aku mengenal mu dari karya-karya mu. Meski Aku belum membaca semua karya hebat mu, tapi setidaknya aku pernah membacanya. Jujur saja.

Aku pun mengenal wajah mu lebih detail saat engkau sudah menua. Itu pun dari sebuah tayangan video wawancara mu dengan seorang jurnalis asing. Bahkan, lebih menyedihkan lagi, aku melihat wajah Bung Pram di mana mata dan pikiran Bung Pram mulai lelah. Saat tangan Bung Pram sudah tak dapat menulis lagi. Saat Bung Pram kabar kan diri sedang menderita sakit penyempitan pembuluh darah jantung.

Maklum saja, aku seorang lelaki yang lahir di era 90-an. Masa kecil ku pun tak mengerti apa itu kolusi, apa itu korupsi dan apa itu nepotisme. Meski kini aku sudah sadari dan pahami. Aku adalah korban dari kerakusan masa lalu itu. Dan hingga saat ini pun masih terjadi dan belum terselesaikan.

Terbayang Tapi Tak Dirasakan 

Bung Pram. Kita memang lahir di kehidupan yang berbeda. Tapi bahasa  kita sama, bendera kita sama, Tanah Air kita sama, Indonesia. Yang membedakan adalah sejarah kita masing-masing. Tapi tidak untuk sejarah Bangsa kita. Indonesia tetap Indonesia, bukan Francis, bukan Meksiko, Bukan juga Korea.

Bung sudah menggambarkan setidaknya kehidupan masa lalu. Masa di mana hukum dan keadilan Bung Pram sebut sudah tiada. Pahitnya kehidupan menjadi orang Indonesia pun sudah Bung Pram rasakan. Buku-buku karangan Bung dilarang oleh bangsa sendiri, bahkan dijadikan debu oleh Negara sendiri.

Aku mencoba membayangkan apa yang Bung Pram rasakan. Meski ini hanya membuat Bung Pram tertawa geli di Surga sana. Setidaknya, Aku bisa mengetahui dari cerita Bung Pram. Dari tulisan yang Aku baca untuk merasakan bagaimana rasanya separo usia dihabiskan di Pulau Buru tanpa pengadilan.

Terbayang tapi tak dirasakan. Hidup dengan siksaan, penghinaan dan bahkan penganiayaan. Untuk membayar itu semua, Bung Pram pun pernah mengatakan Negara mungkin harus berutang lagi untuk menebus dan atau mengganti semua yang Bung Pram miliki.

Tapi sepertinya percuma. Urat saraf pemberian maaf Bung Pram pun sepertinya sudah terputus. Bahkan, permintaan maaf Gus Dur pun Bung tolak. Jelas sekali Bung Pram mengatakan, permintaan maaf tidak cukup. Harus ada mekanisme hukum. Semua mesti lewat hukum.

“Aku sudah kehilangan kepercayaan. Aku tidak percaya Gus Dur,” kata Bung Pram. “Aku tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang Aku alami. Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orde Baru,” kata Bung Pram seperti yang dikutip penulis dalam tulisannya.

Keras sekali tulisan Bung Pram itu. Menuntut tanggung jawab bukan perkara yang mudah. Terlebih soal nyawa dan keadilan. Meski itu sulit, tapi tak ada yang tak mungkin. Jika saja generasi muda kini mulai mengerti, mulai langkah kan kaki untuk lebih berani melangkah tanpa mengenal titik balik, semua yang niscaya akan nyata.

Bung, Aku Mau Mengadu

Lagi-lagi Aku mau sampaikan, kita hidup di zaman yang berbeda Bung Pram. Kita memang lintas generasi. Bung Pram angkatan tua yang sudah mengukir sejarah, dan Aku generasi muda yang sudah mengukir sejarah sejak baru lahir. Meski tak sehebat Bung Pram dengan massa pahit yang alami. Terlebih bisa melewatinya mesti dengan rasa sakit seperti yang Bung bilang.

Aku baca riwayat hidup Bung pram.  Bung merupakan anak sulung  lahir di Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925. Memiliki seorang Ayah yang mengabdi sebagai seorang Guru yang tadi nya bekerja untuk sekolah dasar pemerintahan, HIS, di Rembang. Lalu Ayah Bung Pram menjadi kepala sekolah milik pergerakan Budi Utomo di Blora.

Singkat cerita, memasuki usia dewasa, di tahun 1940-an, Bung ikut  dengan tentara Republik  dalam gerilya melawan pasukan Belanda. Di Tahun 1947, Bung kemudian dipenjarakan di Bukit Duri. Di sana Bung mulai menulis dan berkarya. Namun karya Bung pun dihilangkan.

Memasuki tahun 1958, Indonesia dinyatakan dalam keadaan darurat perang. Di sana lah militer mulai gagah lagi, bahkan mengatur kehidupan masyarakat. Sejarah pemberedelan pun di mulai. Mulai dari koran, organisasi dan sistem politik pun mulai diubah drastis.

Bung Pram ada di masa itu. Di tahun 1960, Bung menerbitkan sebuah esai panjang yang dibentuk dalam sebuah buku. Hoakiau di Indonesia. Hingga akhirnya Bung di bawa ke Pulau Buru untuk disekap. Dipenjara tanpa pengadilan oleh pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-komunis Tionkok nya.

14 tahun di tahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan, sebelum akhirnya dibebaskan pada tahun 1979. Menariknya, mesti dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, Bung Pram tetap mengatur untuk tetap menulis dan menghasilkan karya Novel yang hebat dengan pemeran utamanya, Mingke.

Bung Pram. Aku mau mengadu. Kita memang di generasi yang berbeda. Tantangan kita pun berbeda. Tapi musuh kita masih sama. Ketidakadilan. Iya, ini masih terjadi. Dari mana semestinya mulai diubah  Bung?

Generasi muda? Aku dengar itu. Generasi muda, khususnya mahasiswa tak seperti masa Bung Pram dahulu. Jangankan untuk melawan ketidakadilan, hidup dalam ketidakadilan pun Aku pikir banyak dari mereka yang belum menyadarinya.

Fenomena sosial saat ini disikapi dengan media sosial. Ditanya kapan bergerak nya? Jawabannya sibuk. Urus ini, urus itu yang ternyata hanya untuk mencari alasan dari ketakutannya untuk bergerak.

Iya, Aku sebut itu takut. Jangan kan untuk bergerak, untuk menulis pun tak ada yang mau. Bahkan, Aku lihat sendiri banyaknya pers kampus yang “tiada” dengan alasan tak ada orang yang meneruskannya. Sedih? Jelas. Terlebih Bung Pram pernah mengatakan, “Menulis adalah Keberanian”.

Kini Bung Pram sudah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa. Aku mengadu lewat tulisan, karena Aku memiliki keyakinan. Jika ingin abadi, maka menulis lah. Karena jika mulut tak lagi bercerita, tubuh mu sudah kaku, maka tetesan tinta mu yang pernah kau tulis, akan masih bisa tetap hidup. (*) Penulis adalah pemuda harapan keluarga.

I Wayan Widyantara

Penulis adalah seorang Pers Mahasiswa LPM Kertha Aksara di Fakultas Hukum Universitas Udayana