Agama Sebuah Pandangan Kritis?

Agama adalah sebuah dorongan untuk dijelaskan. Sebuah dorongan alamiah yang setiap orang telaah dan masih perjuangkan. Itu adalah sebuah dorongan yang secara ironis terlihat di eksploitasi, sebagaimana menjadi alat untuk meyakinkan orang dalam mengambil tindakan yang menentang dan melawan dorongan tersebut. Orang-orang yang suka mengeksploitasi itu (Ya, orang-orang itu lagi???) para penguasa yang ada di hampir setiap masyarakat. Tidaklah sulit memahami sebuah rasa yang salah tentang kenyamanan dan keamanan dari kepercayaan yang disediakan oleh agama. Banyak dari kita yang telah melewati vase itu dan bisa mengerti betapa susahnya untuk melepaskan diri dari dogma tersebut. Dogma agama yang merupakan seperangkat aturan, adalah alat yang digunakan oleh orang-orang yang memegang kekuasaan untuk membuat orang-orang yang lain lemah dan untuk memaksa mereka agar melayani kepentingan penguasa.

“Die Religion is’t Das Opium des Volkes”, Agama adalah candu bagi rakyatnya.

Karl Marx

Sejarah dibanjiri oleh banyak contoh-contoh bahwa agama telah disalah gunakan untuk membela dan mempromosikan bagian terbesar dari tindakan terbodoh yang pernah dilakukan umat manusia. Seperti genocide: pembantaian yang dilakukan Hitler dan pembunuhan penduduk-penduduk asli di dunia. Seperti perang: dari awal pembangunan “peradaban” hingga Perang Teluk dan setelahnya. Seperti diskriminasi: pengukungan terhadap perempuan di semua agama-agama besar. Seperti kemiskinan: sebagai alat kapitalisme, seolah agama mengamini kaum miskin untuk menerima ketidakadilan yang mereka alami. Namun mungkin yang paling buruk dari semuanya yakni pengaruh agama yang mengklasifikasikan penggolongan manusia ke dalam kelompok-kelompok, sehingga orang bisa membunuh sesamanya atas nama agama. (F#*k coba kita perhatikan saja hampir setiap konflik besar dunia saat ini dan tepat dibawah kulit diplomasi dan perluasan wilayah akan menemukan sebuah bentuk fundamentalis yang seakan haus darah dari satu atau lebih agama yang terorganisir)

Banyak orang-orang “progresif” yang terlibat di agama percaya bahwa mereka bisa bekerja di dalam instiusi agama untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik. Itu sangat dapat dimengerti – kita juga semua bekerja di dalam institusi dalam batasan tertentu, yang terkadang bila salah ditafsirkan akan berbahaya. Orang-orang terindoktrinisasi oleh agama (termasuk agama-agama ideologi), yang percaya bahwa tidak ada moral di luar institusi mereka. Menganggap institusinya paling benar, paling agamais, yang tak heran itu kerap membuat ketersinggungan terhadap institusi lain dan bahkan menimbulkan konflik di beberapa daerah, saling menghujat dan saling menghakimi dengan mengatasnamakan Institusi agamanya. Hal itu disebabkan selain karena nilai-nilai mutlak yang terkandung didalamnya, juga karena agama sangat mempengaruhi cara berelasi orang-orang beragama.

Sebuah kemunafikan jika kita mencoba menutup mata terhadap realitas yang ada. Bahwa ada perjuangan-perjuangan di dalam agama sendiri sebagai sebuah institusi atas perjuangan terhadap hak-hak rakyat tertindas. Contoh : Perjuangan teologi pembebasan Katholik, Segundo, Gustavo Gutierrez; atau perjuangan islam progresif, Farid Esack (Afsel). Dan juga adalah sebuah kesalahan jika kita menafikkan bahwa seseorang yang tidak memiliki agama, tidak terlibat untuk mengambil bagian dalam keberpihakannya terhadap rakyat tertindas.

Meminjam istilah dari MaxWeber agama dapat mengarah sebagai sumber perubahan sosial. Suatu hal yang tak terbantahkan bahwa agama secara aktif mendorong terciptanya suasana yang harmonis dan relasi yang saling menguntungkan. Namun dalam beberapa kasus tertentu justru sistem politik yang mempergunakan atribut agama tertentu demi kepentingan tertentu. Karena untuk kasus ini saat kemudian agama diinstitusionalkan, agama akan menjadi sebuah alat politis, saat agama diyakini setiap orang sebagai kebenaran yang hakiki, sementara politis itu berada pada ranah abu-abu suatu imajiner antara benar dan salah.

Sehingga kesalahan terbesar ketika agama dipolitisasi oleh orang-orang yang sebenarnya menggunakan agama sebagai alat politis untuk mengeksploitasi agama, justru akan membawa dampak buruk jika menimbulkan aspek-aspek negatif dari agama. Dalam pandangan Marx atas kritik terhadap filsafat Hegel “Agama adalah keluhan mahluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tidak berjiwa”.

Agama memang memiliki akar historis karena sering dijadikan benteng justifikasi kebenaran mutlak bagi para penguasa. Namun agama dapat menjadi sebuah alat kohesif, alat perekat dalam perjuangan, misal: Muhammad seorang revolusioner yang mematahkan kelompok feodal. Cerdas dalam berfikir adalah salah satu kunci ketika kita harus memilah, jangan kemudian ditelan mentah-mentah, walaupun banyak yang mengisyaratkan bahwa kebenaran yang hakiki ada didalam agama. Kita harus menghapuskan bahwa ketika agama menjadi kebahagian yang ilusioner bagi rakyat, berarti menuntut rakyat agar dibahagiakan dalam kenyataannya.

Maka tuntutan agar kita melepaskan ilusi tentang keadaan yang ada, menjadi sebuah tuntutan, beban dan tanggungjawab diri kita masing-masing. Lagi-lagi Marx, mengambil pandangan dari kakek jenggot ini, maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas mulia bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk tidak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata, kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik.

Tugas utama kita sekali lagi adalah menghapuskan pola pikir yang menimbulkan ketergantungan dan kebahagian ilusif ketika kita memandang agama adalah segala-galanya, seperti pendapat yang disampaikan Haji Misbach mereka yang paham agama pasti paham perjuangan kelas.

Karena dalam kehidupan modern saat ini, kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa perjumpaan dengan berbagai perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Dalam kesadaran akan pluralitas itu, hadirlah berbagai sikap dan cara pandang dalam pluralisme yakni suatu konsep pengakuan akan perbedaan. Cara pandang terhadap pluralitas merupakan sesuatu yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Hal nyata lainnya bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang hidup berdampingan dan tidak bisa hidup sendiri, yang tentunya saling membutuhkan bantuan satu sama lain, agama yang dianut janganlah dijadikan pembatas mengingat bahwa suatu sikap dan cara pandang yang tepat tentang pluralitas memberikan kontribusi yang besar bagi terciptanya masyarakat yang demokratis. Konkritnya this opinion is dedicated to you and your lovely eyes , lawan penindas rasis fundamentalis, stop konflik beragama, stop politisasi agama.

 *     *     *

Artikel ini sebelumnya diposting di Korma “Korannya Mahasiswa” Bali dan Majalah pers mahasiswa kertha aksara fakultas hukum universitas udayana (hal 41, rubrik opini, edisi XXI Tahun 2014).

Artikel ini sebelumnya diposting di hukumpedia.com (sumber: http://www.hukumpedia.com/gunturawkward/agama-sebuah-pandangan-kritis)

 

Guntur Siliwangi

Alumni Mahasiswa Angkatan 2007 Fakultas Hukum Universitas Udayana.