Fajar Merah Jejaki Seni Sang Ayah, Putra Wiji Thukul Kini Berkarya di Bidang Musik

“Tanpa keadilan, tidak akan ada perdamaian” Ujar Fajar Merah

 

DENPASAR – Wiji Thukul adalah sosok pujangga yang dihilangkan saat zaman orde baru (ORBA). Karya-karya puisi yang kental akan nuansa perlawanan terhadap pembelaan kaum tertindas. Bahkan, di duga karena karyanya tersebut, Wiji Thukul pun akhirnya “dihilangkan” oleh rezim orde baru yang sampai detik ini belum di temukan Jasadnya.

Diketahui, Sang Maestro Puisi kerakyatan ini memiliki 2 anak, yakni Wani dan Fajar Merah. Dalam kesempatan yang sangat luar biasa, team redaksi LPM Kertha aksara dapat mewawancarai putranya.

Iya, Fajar Merah lahir di SoloTanggal 23 Mei 1990. Putra kedua Wiji Thukul ini kini adalah seorang musisi. Fajar memiliki band yang bernama merah bercerita. Ketika ditemui, Ia banyak bercerita tentang musik, lingkungan dan hak asasi manusia. “Saat ini kesibukannya kalau nggak buat lagu ya manggung, kalau bahasa mewahnya itu mengabdi pada seni” ujar Fajar sambil tersenyum.

Fajar memang dikenal sebagai sosok yang mudah tersenyum, perawakan yang kecil dan busana yang sederhana memperlihatkan kerendahan hati seorang Fajar sebagai putra dari pujangga yang sangat terkenal akan karya karyanya.

Merah bercerita adalah band yang dibentuk oleh fajar bersama teman temannya. Awalnya berangkat dari puisi-puisi Wiji Thukul, dan kemudian band ini membuat karya-karya sendiri yang bercerita bukan tentang diri pribadi. “Kita menyampaikan apa yang harus orang itu tau, contohnya seperti pelanggaran ham, perusakan lingkungan dan lainnya agar kita tidak seperti itu,” Ungkapnya.

Dalam setiap karya yang ditulis, yang paling berpengaruh adalah setiap apa yang terjadi pada dirinya, “Apa yang aku tulis itu terpengaruh pada apa yang aku lihat dan aku dengar, sehingga kalau menulis fiksi itu sampai saat ini belum punya,” ujarnya.

Ditanyai tentang kejadian 1998, Fajar mengaku tidak bisa mengingat kejadian tersebut karena saat itu berumur 4 tahun. Bahkan untuk mengingat sosok bapak (Wiji Thukul, Red) saja tidak jelas. “Aku masih belum punya ingatan yang jelas tentang bapak, bahkan aku dapat mengingat kenangan dengan bapak saat itu sebelum ia dihilangkan” ujarnya.

Namun Fajar mengaku, saat menyanyikan puisi-puisi karya bapaknya, saat itu Ia merasa bisa mengenal bapaknya. “Kadang merasa senang, marah, kesal bercampur aduk saat memusikalisasikan puisi bapak nya,” ungkapnya.

Terkait dengan dihilangkannya ayahandanya, Fajar mengaku sudah memaafkan namun tidak dapat melupakannya. “Saya memaafkan tapi tidak bisa melupakan, seharusnya kasus seperti itu di tuntaskan, ditemukan pelaku nya dan di sana kita juga tidak akan memusuhi pelakunya karena di sana harus ada keadilan karena tanpa keadilan itu tidak akan datang kedamaian,” harapnya.

Fajar pun mengaku sampai saat ini tidak pernah memimpikan bapaknya, dan tanya ke Ibu pun jarang, karena takut ibu malah jadi ke pikiran. Fajar lebih sering menanyakan tentang bapaknya ke kakak atau teman- teman bapaknya mengenai cerita tentang bapaknya.

Cerita lainnya, dalam suatu waktu di tiap acara, Fajar mengatakan merasa terbebani oleh nama besar bapaknya di setiap bermain musik di atas panggung. Namun lama kelamaan merasa bahwa ini tugasnya untuk melanjutkan perjuangan bapaknya. “Bapak itu dihilangkan bukan karena hal yang sepele, bapak memperjuangkan suara-suara rakyat yang saat itu ditindas oleh rezim Suharto sehingga sampai sekarang sangat bangga memiliki bapak seperti itu walaupun pada akhirnya dihilangkan” ujarnya.

Mau nggak menjadi seperti Bapak? “Aku nggak mungkin menjadi seperti bapak, yang hanya bisa seperti itu cuma beliau (Wiji Thukul). nggak ada satu pun yang bisa seperti beliau dan aku juga menyuarakan itu dengan cara ku sendiri” jawabnya.

Soal belajar musik, Fajar mengaku gurunya adalah Youtube, “Youtube itu guru sejuta umat,” ujarnya lantas tertawa.  Baginya, musik adalah media yang paling enjoy dalam menyampaikan pesan dari senang sampai marah dan semua itu paling enak di musik. (Redaksi KA)